Abstrak Artikel
Artikel ID0030
AbstrakSesuai dengan kebijaksanaan yang telah ditetapkan dalam GBHN 1993, pembangunan nasional (BANGNAS) pada PJP II dititikberatkan pada pembangunan ekonomi seiring dengan peningkatan sumber daya manusia (SDM). Dalam Repelita VI kebijaksanaan nasional pada bidang industri diarahkan pada perluasan dan penguatan basis produksi pengembangan industri yang berorientasi ekspor, pengembangan manusia industrial pengembangan organisasi industri dan perluasan penyebaran industri. Pembangunan industri ditingkatkan dan diarahkan agar sektor industri menjadi penggerak utama sistim perekonomian nasional yang harus berjalan lancar dan efisien pada kondisi tersebut diharapkan produk-produk yang dihasilkan mempunyai nilai tambah dan daya saing tinggi, sehingga mampu bersaing baik di pasar domestik maupun di pasar intemasional. Untuk rnencapai kondisi tersebut memerlukan pengembangan industri yang dirancang, direncanakan dan dilaksanakan dengan memperhitungkan faktor-faktor penentu, antara lain kondisi dan kecenderungan peluang pasar, kekuatan dan potensi perkembangan pesaing serta kondisi usaha industri di dalam negri sebagai produsen serta dukungan pemerintah. Mengingat kecenderungan sistim perekonomian dunia yang semakin terbuka, khususnya dengan adanya WTO, APEC, dan AFTA maka dapat diramalkan bahwa tingkat keberhasilan sesuatu usaha industri bergantung pada dua faktor utama, yaitu pemikiran secara ekonomi-bisnis dan management yang mantap di satu sisi serta kegiatan litbang (penelitian dan pengembangan) di sisi lain, dengan mendayagunakan SDM yang mampu menguasai, memanfaatkan, dan mengembangkan berbagai disiplin ilmu pengetahuan dan teknologi (Iptek) secara terpadu dan terarah, termasuk sains dan teknologi nuklir. Dengan meningkatnya kesadaran masyarakat akan pentingnya lingkungan hidup, dipadukan pula perhatian yang meningkat untuk dapat melindungi lingkungan hidup dari dampak-dampak negafif - degradasi dan/atau pencemaran lingkungan yang dapat ditimbulkan oleh proses industrialisasi, baik pencemaran lingkungan (udara, air, dan tanah) secara langsung dan lokal, maupun yang tidak langsung dan bersifat regional/global, seperti peningkatan kadar CO2 dan pengikisan lapisan ozon, yang masing-masing berakibat pada efek rumah kaca dan peningkatan intensitas komponen ultraviolet pada spektrum sinar matahari di permukaan bumi. Pengelolaan lingkungan hidup secara efektif memerlukan informasi mengenai jenis dan sumber (“sources”) pencemar ("pollutant”) itu sendiri, peyebaran ("dispersion”) pollutant tersebut melalui dinamika udara atau air, pengendapan (“deposition”), serta dampak pollutant tersebut terhadap tumbuban-tumbuban, hewan, dan kesehatan manusia. Dalam menunjang pertumbuhan industri maupun pengelolaan lingkungan, secara garis besar sains dan teknologi nuklir telah terbukti dapat memberikan kontribusi komplementer maupun suplementer yang penting dan unik, khususnya pada fungsi-fungsi diagnostik/karakterisasi sesuatu proses atau materi, transformasi dari suatu keadaan kepada keadaan lain, dan sebagai alat monitor dan control suatu proses. Dalam makalah ini diberikan berbagai contoh aplikasi sains dan teknologi nuklir/atom - khususnya photon (sinar ?, sinar ? ), neutron dan partikel bermuatan (elektrtron, proton, … ion berat) yang dihasilkan oleh proses nuklir/atom - pada ketiga fungsi tersebut di atas di bidang industri dan lingkungan hidup. Di bidang industri, contoh-contoh tersebut memberikan gambaran kontribusi sains dan teknologi nuklir dalam memproduksi dan meng- karakterisasi material-material dan komponen-komponen baru, mengoptimalkan proses produksi melalui pemantauan dan pengendalian nuklir, serta meningkatkan mutu dan jenis produk. Di bidang lingkungan hidup fungsi diagnostik/karakterisasi transformasi dan monitor-control dari proses nuklir dapat dijadikan sebagai alat yang andal untuk mendapatkan informasi tentang sumber, penyebaran dan pengendapan pollutants, sehingga merupakan penunjang yang penting dalam perumusan kebijaksanaan dalam pengelolaan lingkungan hidup.
Abstract